Soal Pengetahuan dan Pemahaman Umum (PPU) dan Pemahaman Bacaan dan Menulis (PBM) sering dianggap gampang karena hanya seputar logika umum bahasa Indonesia. Eits, jangan underestimate soal-soal ini! Banyak yang sering kecolongan, loh. Kira-kira solusinya bagaimana?
Menguji Kemampuan Berpikir dan Berbahasa
PPU dan PBM memang 2 hal yang berbeda dari “ibu” yang sama, yaitu Tes Potensi Skolastik (TPS). TPS sendiri berfungsi untuk menguji kemampuan kognitif kita, yang berhubungan dengan kemampuan menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu hal agar menjadi ilmu yang kita dapatkan. Kemampuan ini sedikit banyak berhubungan dengan skill bahasa, kreatifitas, problem solving, dan pola pikir kita.
Walaupun berbeda, dua subtes ini tetap nyambung karena berkaitan dengan kemampuan literasi dan berbahasa. Sesuai namanya, PPU menguji comprehension skill kita. Pernah enggak, sih, lo baca 1 halaman dengan cepat, tapi pas ditanya apa maksudnya atau apa kesimpulannya malah enggak bisa jawab? Ya, inilah yang diuji.
Kesalahpahaman atas suatu bacaan bisa terjadi karena lo enggak tau konteks, arti kata yang jarang dipakai, informasi yang tersirat, bahkan enggak tahu bottom line-nya. Padahal, ini skill yang mendasar tapi penting banget di dunia perkuliahan (dan jadi bahan soal PPU).
Sementara, PBM menguji kemampuan berbahasa secara teknis. Kalau di PPU soft skill dalam aspek “berpikir dan berkomunikasi” yang dites, sedangkan PBM lebih fokus pada aspek hard skill. Mulai dari kata baku, ejaan, kata ganti, sampai penggunaan istilah akan dijadikan soal di tes ini.
“PBM enggak perlu mikir sekeras PPU, dong?” Eits, jangan salah. Lo tetap perlu bisa memahami konteks kalimat dan bacaan untuk tahu di mana letak kesalahannya. Selain hal-hal teknis seperti tadi, ada juga soal terkait pemberian judul yang pas buat suatu paragraf. See? Lo tetap perlu memiliki reading comprehension untuk semua jenis soal.
Sarana Belajar Terpercaya
Sebagaimana kita memperlakukan ujian lainnya, tes yang berkaitan dengan bahasa dan kemampuan literasi ini enggak bisa lo gampangin. Nyatanya, tendensi mencampur aduk bahasa saat berkomunikasi dan skimming ketika membaca sebuah informasi dapat merendahkan kemampuan kita, terutama dalam bahasa Indonesia.
Karena tes kemampuan bahasa Inggris sudah dikhususkan, soal PPU dan PBM murni berbahasa Indonesia. Sering banget kita enggak tahu aturan tanda baca dan kata baku yang tepat, atau susunan kata yang tepat dan efektif.
Nah, sebenarnya, kita sudah difasilitasi oleh para akademisi dan ahli bahasa Indonesia dengan 2 “kitab suci” yang manjur dan mudah untuk dipelajari: KBBI dan Ejaan! Lo juga enggak perlu merasa diberatkan oleh rupa bukunya, karena semuanya punya versi daring dan aplikasi.
Isi dari keduanya tentu berbeda. KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia bekerja layaknya kamus seperti biasanya–isinya kata-kata bahasa Indonesia yang baku. Bahkan ketika lo mencari suatu kata dengan format tidak bakunya di versi daringnya, KBBI akan memberikan hasil menurut kata tersebut sekaligus mengedukasi lo mana yang baku dan enggak.
Di PUEBI, lo bisa melihat banyak peraturan dalam menulis yang tepat. Mulai dari tanda baca, angka, penggunaan kata, sampai penulisan huruf–semuanya ada di sini. “Bukannya kita pakai EYD, ya?” PUEBI itu istilah yang digunakan untuk menggantikan EYD. Sehubungan dengan ini, jangan sampai keliru pakai versi yang lama, ya.
Sementara enggak ada “kitab khusus” untuk meningkatkan soft skill bahasa lo, hanya 2 bahan belajar inilah yang bisa jadi awalan dan dasar untuk meningkatkan kemampuan logika berbahasa. Lo bisa ngerti konteks bacaan meskipun menggunakan susunan dan arti kata nonfamiliar dengan mengacu pada PUEBI dan KBBI yang sudah dipelajari. Dari situ juga, sense of language lo akan lebih terlatih
Skill Andalan untuk PPU-PBM Sukses
Tips dan trik untuk mengerjakan ujian pada intinya sama semua, kok. Untuk PPU dan PBM sendiri, enggak ada cara khusus yang manjur 100% lo lulus di ujian ini. Belajar dan berlatih dengan tekun, dan memahami dengan cerdas, tetap perlu lo lakukan.
Dengan belajar dan berlatih, lo sudah mengasah kemampuan yang dibutuhkan, khususnya dalam 2 tes ini. Yang enggak kalah penting adalah bahan latihan lo seperti materi dan soal juga harus tepat. Hal ini enggak boleh diremehkan karena ada saja soal latihan (terutama bentuk paragraf) dan materi bacaan yang dibikinnya ngawur. Untuk menghasilkan produk yang baik, sumbernya juga harus baik, dong.
Terus, manajemen waktu dalam mengerjakan soal juga penting. Selama kurang lebih 195 menit, idealnya lo harus bisa menyelesaikan semua soal UTBK–literally semuanya. Coba lakukan simulasi pengerjaan soal dengan batas waktu tadi, sehingga lo bisa tahu berapa lama lo bisa mengerjakan soal dan pilih soal mana yang mau dikerjakan duluan.
Membaca cepat, walaupun enggak bisa jadi pegangan terus-terusan, akan sangat membantu dalam manajemen waktu tadi. Seperti biasa, soal yang lo anggap mudah mending diselesaikan duluan, tapi jawabannya harus benar. ‘Kan, sama saja kalau hasilnya salah–apalagi model soal HOTS yang mungkin agak mengecoh.
Satu lagi yang penting– teliti! Bahkan ketika baca thread di Twitter bisa siwer gitu, ‘kan, matanya. Jangan keburu ngantuk ketika dapat soal bacaan yang panjang, ya. Tetap fokus dengan paragraf yang lo baca untuk tahu bottom line serta informasi spesifik di dalamnya.
Baca juga: Mengenal Soal HOTS UTBK
Gimana, masih mau nganggep kalau PPU dan PBM itu gampang? Pasti gampang, kok, kalau kalian rajin latihan dan belajar.
Salah satu trik lain untuk memfamiliarkan lo dengan kata-kata baku adalah buat daftar kata-katanya.
Di Analitica, lo enggak perlu susah-susah buat dulu karena sudah disediakan! Selain itu, lo bisa latihan PPU, PBM, dan semua tes TPS, dan bahasa Inggris lewat aplikasinya. Yuk, segera daftar dan latihan di Analitica!