Mencatat materi dengan tulis tangan melatih muscle memory lo dan mendukung kemampuan otak dalam menerima informasi. Walau zaman sudah lebih canggih, cara kuno ini tetap enggak bisa dikalahkan. Kalau lo cenderung malas atau capek menulis, lo bisa coba metode mencatat ini!
Dari sekian pilihan yang akan lo lihat nanti, lo harus tahu bahwa bottom line-nya mencatat itu sama. Dengan mencatat, lo juga menguji pemahaman materi. Apa yang lo dengar dan tulis kembali dengan kata-kata lo sendiri membantu mengingat lebih baik. Dengan begitu, lo punya study guide sendiri!
Nah, agar proses belajar lo maksimal, ada at least 5 metode mencatat yang bisa lo sesuaikan dengan kebutuhan. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya. Yuk, simak list ini!
Metode Sentence (Kalimat)
Sebagai yang paling dasar, metode sentence diterapkan simply dengan mencatat apapun yang lo dengar dalam satu kalimat. Kalau sudah beda kalimat, lo akan menuliskannya di poin yang baru. Metode ini secara enggak sadar biasa lo lakukan saat kelas berlangsung dan lo perlu menulis dengan cepat.
Keuntungan dari metode sentence juga merupakan kerugiannya. Metode ini bisa digunakan untuk materi apa saja. Lo juga akan mendapatkan catatan yang lengkap, tapi cuma sebatas apa yang lo ingat. Kalau skill mengingat dan menulis cepat lo buruk, this will be the downfall for you.
Sayangnya, lo enggak bisa melihat informasi yang umum dan penting secara langsung. Sentencing enggak se-organized itu, lo harus mengedit catatan agar lebih rapi dan bisa dibaca dengan nyaman. Walau enggak dapat kesempatan untuk rephrasing sepahamnya lo, lo tetap dapat catatan itu dari sumber utama dan bisa disimpulkan nanti.
Metode Outline
Metode outline memperjelas organisasi pembahasan. Caranya adalah lo memilih topik yang dibahas dan memperjelasnya di bawah subtitle-nya. Lo bisa memanfaatkan bullet dan numbering dan menulis setiap bagiannya dengan menjorok ke dalam.
Catatan ini rapi dan gampang untuk dibuat dan di-review karena enggak ada trik spesifik. Tapi, hal ini tidak akan berlaku untuk pelajaran eksakta seperti Matematika dan Fisika. Kalau lo mencatat dengan metode outline saat kelas berlangsung tanpa bisa lo pause, keuntungannya enggak akan bisa lo rasakan.
Agar metode ini berefek sebagaimana mestinya, lo perlu pace belajar dan mencatat yang bisa dikontrol. Mencatat dengan metode ini perlu konsentrasi dan konsiderasi atas materinya. Dengan begitu, catatan akan terorganisir dan bisa lo pakai untuk belajar lagi atau quizzing diri sendiri.
Metode Mind Map
Walau akan memakan waktu dan konsentrasi yang cukup banyak, metode mind map mempermudah lo melihat hubungan antar ide dan fakta. Metode ini cocok untuk memperjelas materi yang cukup kompleks dan banyak koneksinya seperti Kimia, Sejarah, dan Filosofi.
Penulisannya dimulai dengan menaruh topik utama di tengah halaman, lalu dilanjutkan oleh cabang-cabang dengan detailnya. Lo bisa coret-coret lebih leluasa seandainya ada hubungan di antara penjelasan yang jarak/fokusnya cukup jauh.
Mind-mapping cocok untuk lo yang suka belajar dengan visual tools. Dengan melihat strukturnya, lo akan diajak berpikir secara aktif dan kritis. Tapi, catatan ini kurang efektif untuk digunakan dalam kelas dan harus direncanakan dengan baik agar rapi dan fungsional. Lo juga harus punya pemahaman awal terkait materinya.
Metode Charting (Tabel)
Metode ini sesederhana menaruh catatan dalam tabel. Artinya, kategori pembahasan sudah ditentukan dan serupa. Misalnya, lo akan membahas perang-perang di Indonesia. Fakta seperti tanggal, nama tokoh, dan tempat kejadian bisa lo rangkum dalam tabel itu.
Penggunaan metode ini cukup terbatas karena hanya maksimal bila digunakan untuk informasi yang statistikal dan punya kategori yang sama. Charting enggak memberi ruang yang pas buat lo untuk menjelaskan hal-hal yang lebih spesifik dan berbasis hitungan/rumus.
Namun, tabel mempermudah lo untuk membandingkan detail satu dengan yang lainnya. Lo enggak perlu kemampuan khusus juga–tinggal buat tabel sesuai kelompok pembahasan dan lo bisa mencatat. Me-review dan melihat korelasi antar kelompok jadi lebih mudah dengan metode ini.
Metode Cornell
Metode Cornell cukup dikenal karena selain namanya yang beda, template dan teknik penulisannya terkesan fancy. Lo perlu menyiapkan 3 ruang sebelum mencatat:
- Cue di sebelah kiri untuk menulis hal teknis dan umum seperti topik pembahasan, bacaan tambahan, kuis dan ulangan
- Notes di sebelah kanan cue untuk menulis materinya (pastinya akan lebih luas daripada cue)
- Summary di bawah keduanya untuk menulis inti dari materi yang lo tulis
Metode ini terbukti efektif dan gampang digunakan karena organisasi yang jelas. Lo juga dapat memakainya untuk materi apapun. Proses mengulang materi akan jadi lebih mudah dan masuk ke otak.
Sayangnya, lo harus mempersiapkan lembar catatan sebelumnya. Catatan yang lo tulis juga harus dibuat seefektif mungkin karena space-nya yang enggak sebesar itu. Apalagi kalau ternyata materinya banyak, lo akan agak kesusahan mengatur catatannya.
Intake gue perihal mencatat adalah lo mungkin harus berlatih dulu untuk mencatat. I mean, lo bisa-bisa harus menulis 2 kali (satu raw, satu organized) untuk mendapatkan catatan yang bisa lo gunakan dan punya efek signifikan. But that’s on you. Lo bisa coba-coba dulu dan akhirnya menemukan metode mencatat yang paling cocok!
Dalam level kehidupan apapun lo, semua metode ini bisa lo pakai untuk urusan mencatat dan merangkum. Kalau lo mau tahu tips-tips yang bisa lo gunakan untuk survive dalam sekolah dan kuliah, stay tuned di Instagram dan Twitter Analitica, ya!