Les vs. Belajar Mandiri, Sebaiknya Bagaimana?
Les, nggak les. Les, nggak les. Rasanya, buat beberapa pelajar (termasuk lo, sobat Mika) untuk memutuskan ambil pelajaran tambahan itu cukup membingungkan.
Males nggak sih, harus belajar bahkan setelah pulang sekolah? Nyatanya, kegiatan setelah sekolah mempengaruhi dan menentukan kualitas siswa. Outcome pelajar yang pulang sekolahnya malah kelayapan dan yang ke tempat les atau belajar di rumah tuh, pasti beda!
Benefit dari mengikuti les baik privat maupun kelompok udah jelas buktinya. Hal ini menjadikan les sebagai budaya dan privilege tersendiri di kalangan pelajar, baik siswa maupun mahasiswa. Yes, getting you into a tutoring is a huge privilege karena nggak semua orang bisa mendapatkan hal itu. Ada setidaknya 3 tolok ukur; yaitu biaya, waktu, dan tenaga.
A. Masalah Biaya
Mendaftar les jelas perlu uang, seberapa pun nominalnya. Banyak orang tua yang menyisihkan biaya hidup agar anaknya bisa belajar lebih “lama” lagi. Kita tahu, bahwa kita bisa mendapatkan tutor yang mungkin lebih ngena cara menjelaskan materinya.
Penjelasan guru belum tentu bisa mencakupi ketidaktahuan siswa, sehingga siswa harus membuat effort lebih untuk mengejar ketertinggalan pribadinya. Materi dan soalnya pun up-to-date dan telah terjadwal. Selain itu, setiap lembaga kursus dan tutor privat punya “rumus cepat yang gampang diingat” –which is ini juga bisa jadi nilai jual mereka.
B. Masalah Waktu
Masih bingung, mau les atau belajar mandiri? Lanjut baca nih.
Itu untuk biaya, sedangkan kalau untuk waktu dan tenaga udah jelas banget saling berkesinambungan. Kalau lo tuh, tipe pelajar yang organisatoris, peluang waktu kosong setelah sekolah mungkin nggak ada sama sekali. Ini karena lo udah disibukkan dengan kegiatan klub, ekskul, atau organisasi.
Dan karena lo udah kelelahan dengan kegiatan akademik dan non akademik, you’d rather sleep at home bahkan dari pada nongkrong. Tidak terkecuali jika lo memiliki kondisi kesehatan khusus yang mengharuskan pola hidup teratur.
Ada banyak riset mengenai efektivitas les baik untuk mahasiswa maupun siswa. Guerra-Martin et al. menyatakan bahwa tutoring mendukung kesuksesan akademik bahkan di studi tingkat lanjut (University of Seville). Kegiatan tersebut meningkatkan performa mahasiswa utamanya dalam mata kuliah yang gagal mereka kuasai.
Mengikuti hasil ini, Noviyanti dan Rizki melihat peningkatan siswa SMA dalam pelajaran biologi, di mana mereka membutuhkan memorizing dan comprehension skills yang mumpuni. Persoalannya ya karena mereka merasa semakin bisa, mereka semakin tertantang untuk menjawab soal yang sulit!
Terus nih, yang kadang luput dari perhatian kita adalah efek samping dari belajar tambahan itu sendiri. Pelajar berpotensi menggantungkan tanggung jawabnya (PR dan tugas sejenis) kepada tutornya dengan mindset “biar cepat selesai.”
Dalam skala yang lebih serius, melonjaknya pendaftar les saat tahun terakhir (mendekati ujian nasional) mengindikasikan kesalahan dalam sistem pendidikan kita. Edi Subkhan dari Universitas Negeri Semarang menjelaskan bahwa hal ini mempersulit Kemendikbud dalam menilai kualitas pembelajaran di sekolah. Hasilnya, keberhasilan siswa dalam menghadapi ujian nasional membingungkan–apakah efek belajar di sekolah atau les di luar sekolah.
Kenapa Memutuskan Tidak Les?
Yaps, melihat tolak ukur tadi, di lain sisi, belajar sendiri setelah pulang sekolah bisa dibilang cuman untuk anak-anak yang mandiri! Belajar sendiri sebenarnya bukan karena nggak ada privilege. It might be true, though, ketiadaan 3 tolok ukur di atas tadi kerap menjadi penghalang utama.
Tapi, justru sistem belajar mandiri ini bisa jadi hanya tambahan untuk mengulang pelajaran. Mereka telah memaksimalkan waktu dan kesempatan bertanya di sana. So, mereka nggak perlu ngoyo lagi untuk belajar setelah sekolah!
Pelajar yang berada di jalur ini bisa dibilang memiliki komitmen lebih kuat dari pada yang ikut les. Nggak ada yang mengatur silabus dan jadwal–semuanya terserah diri sendiri! Maka dari itu, dibutuhkan keinginan yang kuat untuk mengasah dan menambah ilmu dengan belajar mandiri.
Di komunitas online, nggak jarang teman-teman seperjuangan saling berbagi materi dan soal. Beberapa di antaranya diperoleh secara ilegal, bahkan ada yang ngambil dari lembaga les juga! Tentu, hal seperti ini nggak bisa dijustifikasi ya, sobat Mika. Masih banyak kok, materi dan soal yang bisa diakses online dan gratis.
Kalau boleh realistis, semua hal di dunia ini ada cost-nya, ‘kan? Nggak ada yang salah kok, dalam mencari peluang mendapatkan ilmu secara gratis, karena memang idealnya pendidikan jangan sampai dikomodifikasi. Tapi, nggak ada yang salah juga ketika kita mengeluarkan biaya untuk hal yang memang diperlukan, salah satunya akses ilmu ini.
Setelah membaca artikel ini, lo jadi bingung ya, apa yang perlu lo dipertimbangkan kalau mau ikut les? Hal ini sebenarnya gampang-susah. Apakah lo tipe pelajar yang harus belajar dengan kondisi “ramai” atau individu?
Apakah ada satu mata pelajaran yang membutuhkan perhatian khusus? Apakah lo membutuhkan tutor untuk memahami materinya? Dan yang terakhir, apakah 3 tolok ukur di atas terpenuhi?
Menurut mayoritas pelajar, belajar di sekolah itu makanan pokok, les adalah suplemennya. Nggak wajib, tapi mungkin akan berefek yang baik untuk lo. Kalau masih ragu, lo bisa coba belajar mandiri dulu, lalu ikut les, kok! Yang terpenting, jangan malas-malasan dan juga memaksakan diri, ya! You know yourself the best!
Nah semoga kebingungan antara mau les atau belajar mandiri bisa terjawab dengan artikel diatas ya. Lo, bisa baca juga artikel menarik dari Analitica, Platform Ujian Online Terbaik yang menyediakan ujian untuk seleksi masuk kampus, tryout UTBK SBMPTN, Seleksi Mandiri dan masih banyak lagi.