Tugas Sekolah: 1 Koin dengan 2 Sisi yang Berbeda

Pembahasan kali ini akan membuat kita semua melengos malas. Iya, pekerjaan rumah (PR), tugas take-home, apapun istilahnya. Enggak peduli mau lo pintar, rajin, malas, hiperaktif–jarang ada pelajar yang suka kalau ada PR. Apalagi format paper. Apalagi harus 5000 kata. Apalagi deadline cuman seminggu. Tapi, mau enggak mau, pemberian tugas jadi parameter kesuksesan guru dalam menyampaikan ilmu dan kita sebagai penerima dalam memahaminya.

Setiap pelajar punya preference tugasnya masing-masing. Kita persempit menurut jumlah orang yang mengerjakan tugas nih, ya: tugas individu dan kelompok. Beuh, Mika yakin kalau otak lo unconsciously penuh dengan sambatan saat mendengar jenis penugasan tadi. Kalian sendiri pasti sudah paham dan bisa relate tentang apa saja pros and cons-nya, tapi coba kita telaah lebih dalam, yuk!

Sesuai sebutannya, tugas individu dikerjakan oleh satu orang. Sementara, tugas kelompok dikerjakan oleh tim yang terdiri dari 2-6 orang idealnya yang punya role masing-masing. Setiap jenis tugas punya tujuan dan syaratnya sendiri. 

Tugas Individu

Tugas individu diberikan ketika beban tugasnya lebih ringan. Misalnya, tugas matematika pilihan ganda 20 soal atau esai sejarah 2 halaman. Namun, keringanan ini diikuti dengan tenggat waktu yang possibly lebih cepat. Dengan memberikan tugas individu, guru atau dosen lo tuh, mau lihat whether you guys sudah paham dengan materi yang diberikan atau enggak, tanpa bergantung dengan pelajar lain.

Memang sih, kesannya tugas individu itu ngeri. Tapi nih ya, kebebasan ingin mengerjakan tugas seperti apa, kapan, dan bagaimana itu tiada tandingannya dengan harus tunggu-tungguan dan cekcok sama anggota kelompok yang sering alasan gak bisa ngerjain tugas bareng-bareng.

Tugas Kelompok

Now, the other side of the said coin is group assignment. Jenis ini jadi favorit kalau tugasnya enggak masuk akal atau terlalu berat dipikul sendiri. Contoh real yang bisa kalian rasakan adalah praktikum lab, KKN, PKL, dan lainnya. Tugas kelompok tidak hanya membawa keuntungan riil bagi pelajar tapi juga pengajar. Penilaian yang harus diselesaikan oleh pengajar tentunya lebih sedikit dan time-effective.

Selain itu, beban penjelasan ulang materi ke pelajar yang belum paham diringankan dengan adanya automatic peer tutoring oleh teman sekelompok yang sudah paham. Long-term effect dari tugas kelompok cukup relevan dengan dunia kerja, di mana kita butuh kemampuan teamwork, kolaborasi, dan organisasi. 

Semuanya Bikin Sebel!

Sudah ambil waktu istirahat, soalnya beda sama apa yang dipelajari, tugas dari pelajaran lainnya juga banyak–list sambatan ini enggak akan pernah berhenti deh, serius! Tapi, berhubung kita sedang fokus ke kuantitas pekerjanya, ada 2 alasan paling menjengkelkan yang mungkin bisa kita sepakati bersama: numpang nama doang alias free rider dan tukang contek!

Tugas kelompok yang harusnya dikerjakan bersama-sama malah terasa seperti titip presensi. Kalau ngerjain paper-nya pada ogah-ogahan, slot presentasi dan operator ini terasa rebutan panjat pinang. Lo bisa aja nge-delete nama anggota yang “curang” atau langsung lapor ke guru atau dosen terkait. Tapi, enggak jarang juga ‘kan, kalian merasa di-guilt trip secara tidak langsung. 

Well, fenomena “numpang nama doang” juga disadari oleh guru dan dosen. Mereka menyadari kalau ada saja yang free-riding. Lora Mitchell Harding dalam risetnya memberikan solusi bernama flocking method, di mana pelajar dipasangkan menurut kesesuaian ketersediaan jadwal dan kerelaan untuk mengerjakan tugas (in other words, anak yang niat dikelompokkan dengan anak yang niat dan berjadwal sama). Metode ini membuahkan efek yang baik: menurunnya tingkat free-riding dan meningkatnya performa baik dalam tugas individu maupun kelompok!

Lo sempat lihat instagram story-nya Jerome Polin yang mengangkat isu mencontek yang enggak seharusnya dinormalisasi? Opini Jerome bukan opini lagi–setiap anggota pendidikan dan masyarakat harus mengiyakan kalau tradisi jelek yang destruktif itu masih bertahan, contohnya ya, menyontek dan menjauhi teman yang tidak ingin memberi sontekan. Kita bisa berlindung di payung “solidaritas,” tapi sampai kapan, men? 

Apapun Tugasnya, Feedback Hasilnya

Ada satu hal yang lewat perhatian kita saat bahas ini: feedback. Feedback yang dimaksud bukan sekedar kasih nilai A atau KKM 75, ya. Feedback mencakup penilaian bentuk kuantitas dan kritik-saran konstruktif. Ferry Doringin menyorot bagaimana pemberian feedback merupakan bentuk keterbukaan yang membawa efek positif. Dengan adanya diskusi antara pengajar dan pelajar, kedua pihak jadi tahu apa yang harus dibenahi dan ditingkatkan.

Sementara, apa yang sudah menjadi kebiasaan kita adalah feedback yang tidak diberi dan tidak diminta. Tentunya, kita enggak bisa menggeneralisasi bahwa semua guru dan dosen suka memberikan tugas tapi malas memberikan feedback. But then, the fault will be on us too kalau kita tidak memintanya. Terkadang, kita pasti merasa sudah malas dan sungkan sama teman-teman lain untuk bahas ulang soal yang sudah kita kerjakan atau minta feedback.

Tapi, kalau begini terus, enggak bakal kelihatan juga tentang apa yang sudah meningkat dan apa yang perlu diperbaiki. So, both teachers and students wajib proaktif dan punya self-consciousness kalau kita tidak akan pernah pintar, serius. That’s why we should always crave for improvement and knowledge. Sekarang, balik lagi kerjain tugas lo!

Butuh Soal Asli TKA 2025 dan Prediksi TKA SMA 2026? Sini Coba Gratis!

Coba latihan soal gratis berikut ini. Tersedia layanan persiapan TKA SMA 2026 dan SNBT 2027 yang soal-soalnya diambil dari ujian asli tahun sebelumnya.

Artikel Terbaru

Dapatkan Materi Prioritas!

Baru kali ini, latsol persiapan TKA dan UTBK semenyenangkan ini!