Memperingati 21 April 2021: Sudahkah Kamu Menjadi Kartini?

2 min read

Memperingati hari karini di masa covid 19

“Habis gelap, terbitlah terang”

RA. Kartini

Sobat Mika, siapa disini yang akrab dengan penggalan kalimat tersebut? Kalau kalian menjawab RA. Kartini, kalian ada dijawaban yang benar. Penggalan tersebut merupakan judul buku dari kumpulan surat-surat RA. Kartini. Tentu kalian tau dong, sejarah RA. Kartini yang sering bertukar surat dengan teman-temannya di Eropa itu?! Gejolak perjuangannya dimulai dengan kekaguman beliau terhadap wanita-wanita Eropa dan keinginannya untuk melawan adat kolot yang membelenggu hak-hak para perempuan pada masa itu.

Sobat Mika tau gak? Sekitar tahun 1800-an, ketika RA. Kartini masih kanak-kanak, peraturan yang berlaku hanya memberikan kesempatan pendidikan kepada perempuan bangsawan saja, loh! Pun, perempuan bangsawan hanya bisa mengenyam pendidikan sampai usia 12 tahun, karena adanya adat dipingit, atau adat dimana seorang perempuan harus tetap di rumah sampai nanti dia menikah.

Wahh, kalau zaman sekarang masih ada peraturan ini, mungkin hari ini kita tidak akan melihat perempuan-perempuan Indonesia bersekolah, apalagi sampai menjabat di pemerintah seperti Ibu Tri Rismaharini, Ibu Sri Mulyani atau Ibu Susi Pudjiastuti.

Perjalanan Pendidikan RA Kartini

RA. Kartini seperti kebanyakan putri bangsawan lainnya, beliau juga mengenyam pendidikan di sebuah sekolah, yaitu di Europese Large School (ELS). Disinilah RA. Kartini mulai belajar bahasa Belanda hingga berusia 12 tahun.

Setelah itu apakah RA. Kartini berhenti belajar? Ohh, tentu saja nggak, sobat Mika! Perjuangan beliau baru dimulai saat ini. RA. Kartini rajin bertukar surat dengan teman-temannya di Eropa yang kemudian membuka wawasan RA. Kartini tentang kemajuan wanita Eropa dimasa yang sama.

Ada pepatah yang mengatakan, buku adalah jendela dunia. Mungkin itu yang RA. Kartini rasakan. Karena meskipun berada di dalam rumah saja, RA. Kartini tetap bisa mengetahui dunia luar, melalui buku-buku berbahasa Belanda yang dikirimkan teman-temannya atau melalui majalah berbahasa Belanda yang menjadi langganan. Surat-surat yang RA. Kartini kirimkan selalu menunjukkan detail kecil dari luasnya wawasan Kartini muda pada masa itu. Gak jarang loh, beliau mengutip kata-kata dari buku yang beliau baca.

Kalau dilihat sekilas, perjuangan beliau seolah mulus-mulus saja, apalagi diceritakan jika ayah RA. Kartini, yaitu RMA. Ario Sosroningrat adalah sosok yang memiliki pikiran progresif pada masa itu. Sebenarnya tidak semudah itu juga loh! Meskipun sang ayah memiliki pikiran terbuka, beliau tetap tidak mau mengubah tatanan adat istiadat, dimana wanita bangsawan akan tetap dipingit dan belajar menjadi istri yang baik dan penurut, sampai ada lelaki yang meminangnya.

Masalah pinangan pun, wanita bangsawan tak memiliki hak untuk menolak. RA. Kartini sempat memohon untuk melanjutkan sekolah di Semarang, namun tidak diperbolehkan. Hari-hari RA. Kartini yang memiliki semangat tinggi untuk belajar kemudian berubah seolah menjadi tahanan rumah.

Memperjuangkan Emansipasi Wanita

Terus perjuangan beliau hanya soal pendidikan? Eh, engga dong! Lebih dari sekedar pendidikan! Beliau juga berupaya mendobrak adat-adat kolot yang mendeskriminasi perempuan, status, serta warna kulit. Itu didasari karena dunia Kartini kecil pada masa itu dipenuhi dengan berbagai sifat-sifat deskriminatif. Tidak hanya gender dan kedudukan, bahkan soal warna kulit, bayangin deh! Bahkan di sekolah Kartini kecil dulu, guru-guru memperlakukan murid-muridnya berdasarkan kedudukan dan warna kulit mereka. Sedih banget kan, sob.

Tapi untungnya, Kartini merupakan anak yang pandai bergaul dan akrab dengan teman-temannya yang kebanyakan putri bangsawan Belanda. Dari pertemanan ini, Kartini kecil dapat membangun mimpi dan gagasan, serta mulai mendapatkan kiriman-kiriman buku dikemudian hari. Buku-buku ini membuka pikirannya, hingga RA. Kartini mulai membangun asa untuk menyatarakan perempuan pribumi dalam pendidikan, berpendapat dan pengambilan keputusan.

Menjadi Kartini Masa Kini

Sekarang kita kembali pada saat ini, tahun 2021. Yahh, karena pandemi COVID-19 yang belum mereda ini, membuat kita tidak bisa mengadakan acara ceremonial Hari Kartini seperti biasanya. Namun hal itu tidak berarti dapat menyurutkan semangat kita sebagai putra-putri bangsa untuk bisa menjadi Kartini pada masa ini loh, sobat Mika!

Loh? Bentar-bentar, kok putra-putri nih? Bukannya putri aja? Untuk menjadi “Kartini” yang memperjuangkan kesetaraan bagi sesama, tidak lagi dibatasi oleh gender tertentu, guys. Siapapun kamu, dimanapun kamu berada, perjuangan untuk melepas belenggu diskriminasi serta perjuangan pendidikan yang layak bagi siapapun di Indonesia harus tetap dilakukan. Ohiya, dan juga jangan lupa untuk self-love tentunya!

Kartini memberikan contoh nyata untuk mencintai diri kita sendiri, lewat sikap-sikap frontalnya dalam melawan adat istiadat Jawa yang dianggapnya merendahkan perempuan. So, bagaimana, nih? Sudahkah kamu menjadi Kartini untuk dirimu dan lingkunganmu hari ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *