Pertukaran Pelajar – Peribahasa “tuntutlah ilmu sampai negeri Cina” jadi salah satu motivasi mayoritas siswa tanah air untuk mengikuti program pertukaran pelajar yang sering diadakan di bangku universitas.
Program pertukaran pelajar menjadi salah satu program yang paling dinantikan oleh civitas akademik. Terbukti dengan banyaknya pendaftar pada proses seleksi yang diadakan oleh pihak universitas setiap tahunnya.
Menjadi bagian dari suatu universitas di luar negeri dan menjalani kehidupan singkat sebagai “mahasiswa asing” terdengar menarik kan Sobat Mika? Tapi, sama halnya dengan segala hal yang ada di dunia, pasti ada sisi positif dan negatif yang harus dicermati.
Mengikuti program pertukaran pelajar memang punya manfaat yang besar. Bahkan bagi sebagian orang, ikut program pertukaran pelajar adalah kesempatan sekali seumur hidup. Gimana enggak? Menghabiskan sebagian masa muda dengan explore kemampuan diri di negara lain sembari membangun relasi internasional jadi nilai plus dari pertukaran pelajar.
Tapi, dengan gemerlapnya sisi positif dari pertukaran pelajar, lo juga perlu untuk melihat sisi gelapnya. Makanya, kali ini gue akan bahas beberapa fakta tersembunyi pertukaran pelajar yang bisa lo pertimbangkan sebelum fix terbang ke negara lain. Yuk bahas!
Kontras Budaya, Bahasa dan Adat Istiadat
Setiap tempat di dunia punya budaya, adat istiadat dan tradisi yang dipertahankan. Gue yakin lo pernah dengar peribahasa “ketika di Roma, lakukan seperti orang Roma.”. Peribahasa ini cocok banget untuk menggambarkan situasi yang akan lo hadapi ketika berada di negara lain.
Variasi ilmu pengetahuan dan pengalaman yang lo dapatkan ketika mengikuti program pertukaran pelajar enggak akan bisa ditukar. Tapi, perlu dipahami kalau kedua hal tersebut enggak akan bisa lo raih dan nikmati sepenuhnya kalau lo enggak menyatu dengan masyarakatnya.
Kesulitan utama mahasiswa ketika ikut program pertukaran pelajar adalah kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru atau biasa disebut culture shock.
Budaya dan adat istiadat tanah air pasti berbeda dengan negara lain. Sama dengan peribahasa tadi, ketika lo menginjakkan kaki di negara lain, lo harus bersedia untuk menyatu dengan masyarakatnya.
Bukan berarti menjadi seorang yang melupakan dan menggantikan budaya tanah air, tapi menjadi seorang yang humble enough untuk menghargai keragaman budaya.
Baca juga: Kenapa Harus Jadi Mahasiswa Rantau?
Keberanian Untuk Berkembang
Program pertukaran pelajar bukanlah program yang ecek-ecek dan buang-buang duit. Program ini memfasilitasi mahasiswa untuk mengembangkan potensi sesuai dengan minat dan bakatnya sehingga mereka lebih siap untuk membangun negara yang lebih maju di masa depan.
Gue ambil contoh dengan program pertukaran pelajar Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MB-KM). Tujuan dari program ini jelas, membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas kompetensinya.
Jadi, mahasiswa yang ikut pertukaran pelajar punya tanggung jawab besar, bukan sekedar healing atau liburan di luar negeri. Mereka adalah orang-orang pilihan yang punya niat besar dan berani untuk berkembang.
Berani berkembang disini dalam arti yang luas. Berani untuk belajar dari awal karena adanya kontras sosial di negara lain, berani untuk tetap maju dengan segala resiko yang harus ditanggung sendiri dan yang paling penting, berani untuk enggak menyerah dengan kesulitan yang ada.
Poin ini perlu lo pikirkan secara matang, apakah lo udah merasa berani untuk berkembang? Karena nyatanya menjadi berani untuk berkembang di tempat asing itu enggak mudah, perlu kerelaan yang besar di diri lo untuk menghadapi hal-hal baru.
Baca juga: Daftar Lintas Jurusan SBMPTN 2022, Menjanjikan?
Antara Kesiapan Mental dan Profesionalitas
Sejak tahun 2007, ada peningkatan mobilitas siswa di seluruh dunia dan fokus yang berkembang pada pendidikan lintas negara. Adanya peningkatan ini secara tidak langsung juga berkaitan dengan kehidupan masa kini yang serba cepat.
Terus, hubungannya sama pertukaran pelajar apa? Tanpa lo sadari, kedua poin di atas berdampak pada mental, profesionalitas dan tanggung jawab mahasiswa pertukaran pelajar.
Faktanya, kompetisi ketat untuk menjadi yang terbaik juga berlaku di bagian dunia lain. Jadi, setiap mahasiswa yang dikirim untuk mengikuti program ini adalah mahasiswa terbaik. Apa jadinya jika para mahasiswa terbaik dikumpulkan menjadi satu? Kompetisi yang tambah ketat dan membutuhkan ketahanan mental yang besar.
Bersamaan dengan fakta itu, mahasiswa pertukaran pelajar adalah mahasiswa yang menjadi perwakilan negaranya di kancah internasional, yang berarti apapun tantangannya, harus ada keinginan untuk berusaha memberikan yang terbaik.
Menjadi representasi sesuatu yang penting dengan lingkungan yang bergerak cepat dan keharusan untuk beradaptasi dengan tempo yang sama membutuhkan ketahanan mental dan profesionalitas yang enggak kalah besar.
Mempersiapkan mental dan membangun profesionalitas yang tinggi bukan proses semalam. Tapi, kalau ada niat dan dedikasi untuk memberikan yang terbaik, gue yakin seiring berjalannya waktu, cepat atau lambat, pasti kedua poin ini bisa dimiliki.
Baca juga: Efek Multitasking Ternyata Serem Lho!
Jadi, kesimpulannya adalah menjadi mahasiswa pertukaran pelajar itu memiliki segudang manfaat dengan tanggung jawab yang ekstra besar.
Bukan berarti ikut pertukaran pelajar itu ribet dan susah ya. Tapi, sebelum memutuskan alangkah baiknya kalau lo pertimbangkan seberapa besar kesanggupan lo untuk mengemban tugas dan tanggung jawab yang ada dengan kesulitan dan resiko yang mungkin hadir selama program berlangsung.
Eh, udah di akhir artikel aja nih, enggak kerasa ya, hehe. Oiya, enggak ada capeknya gue mau ingetin buat lo untuk cek Instagram Analitica untuk informasi terkini terkait UTBK 2022 dan daftarkan diri lo di website atau aplikasinya untuk ikut daily TryOut Analitica.id! Sampai ketemu di artikel selanjutnya!