Adu Nasib di SNBP, Untung Atau Rugi?

Kerja keras siswa selama SMA bukan tanpa hasil. Setidaknya, mereka yang langganan berada di posisi 10 teratas tiap semesternya dan rajin setor piala ke sekolah berkesempatan untuk mendapatkan “golden ticket” Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Tidak dipungkiri bahwa jalur ini adalah impian mayoritas yang sangat memudahkan para siswa.

Pelaksanaan SNMPTN, baik proses seleksi, pendaftaran, sampai diterimanya mahasiswa tidak luput dari kontroversi. Sistem yang telah berlangsung sejak lama ini kerap memiliki kesalahan yang membingungkan dan merugikan terutama calon mahasiswa. Siswa boleh saja tidak ambis-ambis amat, tetapi bukan berarti keadaan ini dianggap lumrah saja.

Sejarah dan Sistem SNMPTN

Teknis SNMPTN yang berlaku saat ini menjalani banyak proses bahkan sejak 1976 saat Sekretariat Kerjasama Antar Lima Universitas (SKALU) menjalani seleksi calon mahasiswa bersamaan. Sejak itu, agenda seleksi calon mahasiswa diadakan serentak dan semakin berkembang, mulai dari Sipenmaru, UMPTN, SPMB, sampai menjadi SNMPTN mulai 2008.

Awalnya, proses seleksi masih berbentuk ujian tulis dan melalui undangan kepada siswa berprestasi akademik. Setelah melewati sejumlah pertimbangan, diskusi, dan isu, 2011 merupakan awal di mana SNMPTN khusus menjadi jalur undangan prestasi akademik dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang mengakomodasi ujian tulis masuk PTN.

Segala peraturan, metode, dan teknis pelaksanaan jalur masuk kampus ini diakomodasi oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Lembaga ini jugalah yang memberikan informasi kepada SMA dan sederajat mengenai informasi seputar SNMPTN, bahkan know-how lolos kepada para siswanya.

Peluang kelolosan SNMPTN yang ditentukan oleh beberapa aspek telah disampaikan oleh Ketua Pelaksana LTMPT Budi P. Widyobroto sebagai berikut:

  1. Nilai akhir yang diperoleh dari indeks sekolah (data dari LTMPT selama 5 tahun terakhir) dikalikan dengan nilai rapor seorang siswa. Nilai rapor rata-rata menggunakan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan sesuai jurusannya. 

Untuk IPA, terdapat Kimia, Fisika, dan Biologi. Jurusan IPS menggunakan nilai Sosiologi, Ekonomi, dan Geografi. Jurusan Bahasa menggunakan nilai Sastra Indonesia, Antropologi, dan salah satu bahasa asing. Sementara, nilai siswa SMK menggunakan mata pelajaran kompetensi keahliannya;

  1. Prestasi lokal, regional, nasional, dan internasional yang diperoleh selama masa pendidikan SMA sederajat. Aspek ini menjadi nilai plus apabila terdapat kesamaan nilai dengan kompetitor;
  2. Portofolio yang dilampirkan saat pendaftaran ke beberapa jurusan tertentu, seperti olahraga, desain, sendratasik (seni, drama, tari, musik), dan sejenisnya; dan 
  3. Keketatan jurusan dan PTN yang diukur berdasarkan jumlah daya tampung jurusan per jumlah peminatnya. Biasanya, informasi ini disampaikan melalui universitasnya secara langsung. Makin besar persentase keketatannya, makin “mudah” persaingannya.

Mengapa tips-trik ini penting untuk diketahui? Keketatan peluang masuk dan kompetitor berskala nasional menjadi tantangan yang cukup “menyebalkan” untuk para siswa. Di 2022 sendiri, kuota mahasiswa SNMPTN untuk setiap PTN hanya 20% dari total daya tampung mahasiswanya. Bahkan, hanya 18,56% pendaftar yang diterima jalur SNMPTN pada 2021.

Baca juga: Lebih Penting Mana, Nilai atau Ilmu Pengetahuan?

Cuma Lagi Beruntung Saja

Meskipun jalur SNMPTN terkesan “memintarkan siswa yang sudah pintar, sehingga yang bego harus belajar lagi,” sistem ini termasuk fair untuk melihat bibit baik sejak SMA dan menjadi penghargaan bagi mereka yang memang sudah bekerja keras sejak awal untuk mendapatkan kemudahan di kelanjutan pendidikannya.

But how fair is it? Prestasi akademik, atau gampangannya nilai bagus, yang menjadi syarat untuk dapat undangan SNMPTN ini punya satu hole klasik: boosting nilai oleh para guru. Nilai rapor memang bukan satu-satunya penentu, dan kuota undangan yang didapatkan bergantung akreditasi dan indeks sekolah juga. 

Still, kebiasaan boosting juga merupakan kecurangan yang dilumrahkan dan tentunya berefek ke serapan mahasiswa oleh universitas nantinya. Harusnya, nih, kalau memang SNMPTN jalurnya se-magnificent itu, mahasiswa yang diterima tentunya mayoritas (bahkan semuanya) grade A, ‘kan? Boosting nilai punya efek berkelanjutan yang berpotensi menurunkan kualitas serapan SNMPTN itu sendiri.

Dapat undangan SNMPTN dan lolos SNMPTN adalah 2 hal yang sangat berbeda. Harusnya sistem ini “menghargai” siswa yang benar-benar bekerja keras selama masa SMA. Nyatanya, kelolosan malah jadi perkara matter of luck yang dimiliki calon mahasiswa. Fakta lapangan menyatakan bahwa tidak sedikit siswa dengan prestasi akademik dan nonakademik gemilang gagal diterima universitas lewat SNMPTN. Malahan, siswa yang lebih “average” yang akhirnya mendapatkan kabar baik.

Keluhan ini bukannya tidak mendapatkan perhatian dari LTMPT. Mochamad Ashari sebagai ketuanya menyatakan bahwa LTMPT hanya memfasilitasi pelaksanaan seleksi, bukan ikut andil dalam memutuskan siapa yang masuk dan tidak. Selain aspek-aspek di atas, pilihan jurusan dan PTN juga mempengaruhi. Kalau ternyata seorang siswa punya kompetitor dengan pilihan yang sama tapi dengan spek yang lebih tinggi, tentu akan tergeser.

Again, how fair is it? Kriteria kelolosan SNMPTN tidak pernah jelas dari dulu—selalu blur yang membuat mahasiswa mengandalkan “jalur langit”. Tidak sedikit juga asumsi bahwa ketidak lolosan lewat jalur SNMPTN dipengaruhi performa kakak kelas yang pernah diterima, yang tidak memenuhi penerimaan dari universitas, dan lainnya yang, ya…suka-suka PTN-nya.

Kesimpulannya, it is indeed fair untuk bilang bahwa SNMPTN adalah “jalur langit” dan tidak se-kredibel yang kita kira—hanya jika ketidakjelasan ini terus dipertahankan. Realita ini adalah evaluasi keras yang harus ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait di atas. Nggak mau, ‘kan, mengecewakan bibit unggulan yang berakhir “meninggalkan” negaranya?

Baca juga: Guru BK dan Masa Depan Siswa

Buntut dan Penyebab yang Mengakar

Polemik terkait SNMPTN tidak berhenti di situ saja. Samarnya kepastian lolos SNMPTN membuat “semua” siswa ditempa lagi dengan persiapan SBMPTN. Sebagai informasi, siswa yang telah lolos SNMPTN tidak diperbolehkan ikut SBMPTN. Diterima atau tidak, anxiety dan tenaga yang telah dikuras (even hanya dengan persiapan) SBMPTN tentu membuat siswa kelimpungan. Belajar buat SBMPTN tidak semudah itu, man.

Budi P. Widyobroto pun menyarankan siswa untuk memilih satu jurusan saja yang benar-benar diinginkan dan jangan sampai menyikapi pilihan kedua sebagai cadangan. Saran ini sangat berisiko karena 1) Potensi siswa tidak diterima semakin besar karena terpental pesaing; dan 2) Tidak semua siswa sudah tahu dan seyakin itu atas minat dan pilihannya. Rasanya, saran ini diberikan dengan kemungkinan siswa sudah pasti lolos SNMPTN.

Perjalanan mengetahui minat dan bakat melibatkan guru BK di dalamnya. Now, bagaimana jika guru BK lah yang juga terlibat dalam hambatan siswa untuk meneruskan impiannya? Bukan kejadian sekali-dua kali, guru BK “lupa” finalisasi PDSS yang menyebabkan siswa tidak jadi dapat undangan SNMPTN.

Menurut menfess Twitter yang tersebar, si guru hanya meminta maaf tanpa ada kejelasan untuk menanggulangi kesalahan. Tidak ada kabar lebih lanjut terkait penindaklanjutan ini selain tanggapan pihak LTMPT yang tidak akan memberikan kelonggaran waktu karena durasi yang diberikan memang sudah cukup lama.

Baik berjalan sebagaimana mestinya maupun ada oknum yang merugikan, calon mahasiswalah yang merasakan pukulan terberatnya. Usaha keras dan impian yang dipupuk sejak lama kalah oleh beberapa faktor yang seharusnya tidak pernah ada.

SNMPTN boleh jadi harapan siswa dan acuan PTN untuk mendapatkan mahasiswa terbaik. Namun, segala niat baik akan sia-sia jika kesalahan yang terpampang nyata ini masih saja dibiarkan. Diskusi dan perbaikan yang cukup kompleks oleh pihak terkait perlu dilakukan demi kelanjutan ekosistem pendidikan dan akademisi negara yang berkualitas.

Butuh Soal Asli TKA 2025 dan Prediksi TKA SMA 2026? Sini Coba Gratis!

Coba latihan soal gratis berikut ini. Tersedia layanan persiapan TKA SMA 2026 dan SNBT 2027 yang soal-soalnya diambil dari ujian asli tahun sebelumnya.