Tuntutan untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh individu sudah dibebankan sejak dini. Keinginan ini tidak hanya menyangkut personal, namun juga hal-hal yang bersifat sosial. Ingat lagu “Susan Punya Cita-cita”? Walaupun sebatas lagu anak-anak, nyatanya doktrin tentang cita-cita secara tidak sadar telah berlangsung sejak lama meskipun dengan konten yang masih parent-centric (mau jadi dokter, insinyur, presiden, konglomerat).
Hal tersebut merupakan kelumrahan–apalagi semakin dewasa seorang anak, mereka mampu untuk memahami dirinya dan passion-nya (atau malah semakin bingung?). Pemahaman dan pengertian terhadap diri sendiri sangatlah penting agar masa depan mereka dapat mulai dibangun, utamanya sejak SMA/SMK. Di umur 15-17 tahun, mereka seharusnya sudah mendapatkan cukup gambaran untuk menata hidup mereka di taraf yang lebih “serius”.
Sayangnya, tidak jarang juga siswa SMA/SMK masih bingung dengan hal se-simpel kesukaannya apa, bisa belajar apa, dan mau jadi apa (pertanyaan terakhir boleh dibaca sambil menyanyi, kok, hihi). Saat seperti inilah keberadaan guru bimbingan dan konseling (BK) sangat signifikan. Pengertian dan tugas seorang guru BK sebenarnya sudah direpresentasikan dari sebutannya sendiri.
Agus Taufiq, seorang guru besar BK dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) lebih lanjut menerangkan bahwa guru BK fokus pada bagaimana mereka memfasilitasi perkembangan siswa dari kondisi yang riil ke yang diharapkan. Maka dari itu, fokus job description seorang guru BK adalah pengembangan perilaku dan moral.
Ketika siswa berada di kelas 12 atau periode pendaftaran SNMPTN semakin dekat, tidak jarang mereka keluar-masuk ruang BK untuk konsultasi mengenai program studi yang akan didaftarkan. Untuk beberapa SMA/SMK, sounding tentang SNMPTN sudah dilakukan sejak menjadi siswa baru. Namun, saat itu, concern mereka mengenai universitas dan program studi belum begitu dalam. Akhirnya, di detik-detik terakhir inilah mereka membulatkan tekad dan meyakinkan diri.
Baca juga: Kuliah di Universitas Terkenal, Wajib?
Penghalang Kejelasan Impian Siswa
Kesulitan yang dihadapi siswa SMA/SMK dalam menentukan program studi pilihan disebabkan oleh beberapa faktor. Dalam risetnya, Suryani menjelaskan bahwa ketidakjelasan mengenai minat dan bakat siswa yang sesungguhnya menjadi faktor paling awal dan utama. Perkara ini merupakan berita lama yang sepertinya (dan sayangnya) tidak ditanggapi secara serius dan sistematis.
Selain itu, ketika siswa telah menentukan pilihannya, tidak jarang keputusannya bertentangan dengan keinginan orang tua. Akhirnya, mereka harus mulai dari nol lagi. Faktor biaya kuliah dan perekonomian keluarga tidak hanya mempengaruhi keinginan mereka namun juga lanjut tidaknya seorang siswa ke jenjang pendidikan selanjutnya.
As expected, permasalahan ketidaktahuan akan minat-bakat, perbedaan pendapat dengan orang tua, dan faktor ekonomi menjadi tiga hal dasar kebingungan siswa. Nyatanya, isu ini lebih kompleks dan bercabang dari yang telah dijabarkan.
Alih-alih kekurangan, siswa sebenarnya kelebihan informasi yang sumbernya dari mana-mana. Kekurangan dan kelebihan ini mengindikasikan sumber yang tidak akurat dan tidak terpusat. Informasi yang diberikan oleh pihak yang bersangkutan (kampus tujuan, pemerintah) bersifat general yang akhirnya tidak menjawab kegundahan siswa.
Ketakutan dan kecemasan yang bermacam-macam menghambat siswa mengambil keputusan final. Hal ini dapat terjadi karena tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap orang tua. Ada juga yang masih bergantung dengan temannya sehingga tidak bisa memutuskan sendiri dan berakhir ikut-ikutan. Pressure dari orang tua dan teman membuat mereka mengesampingkan isi hati sendiri. Padahal ‘kan, yang menjalani adalah orang tersebut dan bukan orang lain. Kasus lain seperti tuntutan mengambil program studi yang kaya akan lapangan kerja karena kondisi perekonomian keluarga sering terjadi.
Tidak hanya saat proses memilihnya, namun juga saat proses belajar dan mencari kerja dapat menyebabkan burn-out jika keinginan hati siswa tidak diketahui dan dituruti. Guru BK dapat (dan seharusnya) menjadi solusi dalam mempermudah pembentukan jalan karier siswanya. Tidak hanya memihak pada keinginan siswa, namun guru BK juga menjadi penengah di antara pihak-pihak yang berkonflik.
Baca juga: Inilah Mitos dan Fakta Seputar Dunia Perkuliahan
Hasil Bimbingan dan Konseling Guru BK
Metode yang digunakan oleh guru BK dalam memberi arahan penentuan program studi yang didaftarkan menyesuaikan subjek, konten, dan kondisi. Pencarian minat dan bakat siswa dilakukan melalui psikotes (yang lumrahnya dilakukan saat menjadi siswa baru) dan nilai akademik siswa dari semester 1-5. Nilai yang diperoleh juga digunakan oleh sekolah untuk memperoleh kuota SNMPTN.
Yang harus diperhatikan adalah minat dan bakat siswa dapat berubah-ubah dan psikotes punya tolok ukur dan metode yang bermacam-macam. 2 alat ini tidak cukup, sehingga siswa perlu mengeksplor dirinya melalui kegiatan non-akademik yang perkembangannya diperhatikan oleh guru BK.
Guru BK sebagai pemberi informasi yang diandalkan oleh siswa menyampaikan melalui jam pelajaran BK dan diskusi baik kelompok maupun individu. Informasi yang diberikan meliputi program studi, akreditasi, passing grade, jumlah peminat, daya tampung–mayoritas berhubungan dengan persiapan siswa untuk bersaing dengan siswa lainnya. Dalam mendukung efektivitas pemberian informasi, guru BK juga menyediakan buku panduan yang lengkap mulai dari informasi kampus sampai pendaftarannya.
Bagi siswa yang merasa tidak cukup dan memerlukan privasi dengan guru BK, mereka menyediakan kelonggaran waktu untuk berdiskusi di jam pelajaran lain selama mendapatkan izin dan tidak mengganggu kepentingan lain. Cara ini juga diterapkan utamanya bagi siswa yang masih ragu-ragu dan tidak berani menyampaikan kekhawatirannya di jam pelajaran tadi. Topiknya pun menyesuaikan siswanya: biaya hidup, beda tujuan dengan orang tua, budaya perkuliahan, dan sebagainya.
Agar pembahasan mengenai kampus dan jurusan lebih menyenangkan, sekolah mengadakan karyawisata dan career day. Terkadang, siswa perlu melihat dan menghadapi secara langsung agar dapat memantapkan hati dan pilihannya. Kebanyakan siswa hanya tau sebatas permukaan dari jurusan yang diinginkan dan berakhir menyesal karena tidak sesuai dengan harapan ketika mulai proses studi. Aktivitas seperti career day di mana mereka mendapatkan informasi dan trial singkat di karier pilihan mereka dapat memberi wawasan lebih luas dan meringankan pressure siswa yang didapatkan dalam mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan.
Mengikuti metode di atas, guru BK juga memfasilitasi siswa dengan diskusi dengan alumni di program studi pilihan mereka. Ada kalanya ini dilakukan secara sistematis dan atas kemauan alumni sendiri. Dari alumni juga, siswa mendapatkan insider info yang lebih terpercaya. Kultur di program studi, dosen yang mengajar, ujiannya bagaimana, kegiatannya apa saja dapat memperkuat keputusan siswa.
Baca juga: Tips and Trick agar Kamu Tidak Salah Memilih Jurusan
Apa yang Salah?
Siswa, bagi guru BK, seperti anaknya sendiri. Layaknya orang tua, mereka menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi, tidak jarang kekeliruan dibuat sehingga menghambat impian mereka. Dalam bagian ini, konteks guru BK setara dengan sekolah.
Kesalahan dalam penyampaian informasi terkait kelanjutan pendidikan siswa adalah tidak lengkap dan tidak update-nya informasi tersebut. Sekolah dan guru BK harus lebih gigih dalam mencari dan mendapatkan data yang bermanfaat untuk siswa. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh mereka karena pihak kampus juga tidak akan sembarangan menyebarkan informasi.
Selain itu, penerimaan informasi tidak boleh menganaktirikan siswa yang memiliki minat yang jauh berbeda dengan siswa lainnya. Contoh, informasi mengenai program studi teknik nuklir tentunya tidak sebanyak ekonomi bisnis. Sebisa mungkin, seluruh minat dan bakat siswa dapat diakomodasikan informasinya oleh sekolah.
Mungkin, awal dari permasalahan ini dan yang bersangkutan dimulai dari banyaknya beban yang dilimpahkan kepada siswa. Durasi untuk career day dibatasi karena jam pelajaran tambahan. Dibandingkan fokus kepada minat dan bakat, siswa dihadapkan dengan persiapan ujian kelulusan yang tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap diterimanya mereka di perguruan tinggi. Proses seleksi kampus juga tidak memberikan evaluasi terkait kesinambungan minat-bakat dan program studi yang didaftarkan siswa. Akhirnya, problem kecil berbuntut menjadi besar seperti salah jurusan dan karir tidak sesuai jurusan.
Ingat dengan postingan yang ramai di Twitter mengenai guru yang meremehkan siswanya yang tidak mungkin berkuliah? Hal ini adalah hal paling akhir (dan bahkan tidak sama sekali) yang harusnya dilakukan oleh tenaga pengajar. Kalau hal seperti ini kerap dilakukan, rugi dong, usaha menggalakkan informasinya?
Baca juga: Persiapkan Ini Setelah Kamu Gagal SNMPTN
Masa depan siswa adalah tanggung jawab siswa itu sendiri. Guru BK, sekolah, orang tua, dan pemerintah merupakan penyokong yang penting bagi mereka. Namun, masa depan siswa tidak hanya sebatas melanjutkan pendidikan. Jika dirasa tidak cocok, sah-sah saja untuk belajar di luar jadwal atau merintis usaha. Pelajaran yang penting dari isu ini adalah bagaimana siswa harus tahu apa yang diinginkan dan bagaimana cara mendapatkannya.
Untuk mengetahuinya, ujian Try Out bisa menjadi salah satu sarana untuk mengidentifikasi diri, yuk, Mulai #AksiNyata bareng Analitica!