Menjadi Mahasiswa Ambis – Bagi kebanyakan maba (mahasiswa baru), menyesuaikan diri di dunia kuliah adalah salah satu tantangan yang harus dihadapi.
Perubahan gaya hidup dari anak SMA dan menjadi mahasiswa, dapat terlihat salah satunya dari niat yang dimiliki. Ada mahasiswa yang fokus untuk belajar (baca: ambis), ada juga yang menganggap kuliah sebagai fase bersenang-senang karena kelas dimulai pada siang hari.
Ngomongin mahasiswa ambis, image yang muncul di kepala enggak jauh-jauh dari seseorang yang kompetitif; yang memandang waktu dan kesempatan bagai rangkaian turnamen, dan berfokus untuk mengukur keberhasilannya secara objektif seperti ranking, nilai per mata kuliah dan IPK.
Tapi kalau dilihat dari sisi umum, pandangan pada mahasiswa ambis terpecah menjadi dua; Sisi yang mendukung dan sisi yang menghakimi.
Untuk sisi yang mendukung, biasanya disetujui oleh pihak orang tua yang pasti ingin anaknya menjadi yang terbaik di sekolah. Kalau sisi yang menghakimi, biasanya justru datang dari anak muda sesamanya.yang masih pengen santuy menikmati masa muda semasa kuliah.
“Kuliah jangan ambis mulu, banyakin seneng-seneng mumpung masih muda” kata teman yang suka julid.
Terus, apakah menjadi suatu kesalahan menjadi mahasiswa ambis di bangku kuliah? sampai banyak yang tidak suka?!
Tentu, suatu hal harus dilihat dari dua sudut pandang, sisi baik dan buruk. Sama halnya dengan fenomena mahasiswa ambis. Selama ini, di lingkungan sekolah atau masyarakat, mahasiswa ambis umumnya selalu dicap buruk oleh teman seangkatan, padahal ada beragam sisi baik yang menguntungkan.
Tunggu apalagi? Yuk bahas bareng sisi baik mahasiswa ambis!
Motivasi Untuk Selalu Berkembang
Di lingkungan sekolah, pandangan bahwa anak pintar pasti punya prestasi yang lebih tinggi daripada yang lain sering jadi bahan diskusi. Pandangan ini ada benarnya karena kepintaran seseorang bisa memberikan prediksi kuat pada prestasinya di sekolah.
Tapi, kepintaran tidak menjamin kemampuan seorang anak untuk meraih prestasi. Motivasi yang dimiliki seorang anak yang dianggap enggak pintar bisa mengalahkan kepintaran yang dimiliki anak lain.
Hal ini terkait dengan mahasiswa ambis yang enggak selalu dianggap pintar oleh lingkungannya tapi punya keinginan, motivasi dan keberanian untuk berkembang, mencoba hal baru dan mempelajari ilmu baru yang berguna untuk masa depan.
Baca juga : Kuliah di Universitas Terkenal, Wajib?
Makanya, di bangku kuliah, mahasiswa ambis aktif mengikuti berbagai kegiatan untuk menemukan bidang apa yang paling diminati. Keinginan untuk terus mencoba kegiatan baru untuk mendapatkan pengalaman ini enggak banyak dimiliki oleh mahasiswa yang sukanya leha-leha.
By the way, bukan berarti mahasiswa yang enggak ambis enggak punya keinginan, motivasi atau keberanian untuk melakukan hal yang sama. Hanya saja, tipe mahasiswa ambis punya motivasi yang lebih kuat untuk mengembangkan diri dan harapan yang lebih tinggi untuk meraih hasil terbaik.
Enggak semua mahasiswa ambis menilai keberhasilannya hanya berdasarkan nilai, banyak juga dari mereka yang mengukur keberhasilannya lewat tantangan yang dihadapi, proses yang dilewati dan perkembangan yang telah didapat dari pengalamannya.
Manajemen Waktu dan Prioritas Yang Baik
“Namanya juga anak ambis, maunya jadi paling top jadi semuanya diembat” kata teman yang 99% iri dengan prestasi yang dimiliki mahasiswa ambis.
Sebagai mahasiswa ambis, disiplin waktu adalah hal yang penting. Kegiatan yang harus dilakukan setiap harinya sebisa mungkin dijadwalkan sehingga bisa memaksimalkan hari. Hal-hal yang sifatnya akademik selalu diprioritaskan, dan kegiatan lain juga tetap diperhatikan.
Baca juga : Si Early Bird vs Night Owl, Cari Tahu Style Belajarnya Yuk!
Hal-hal yang mendadak yang mengharuskan multitasking akan tetap dijalani walaupun hal tersebut membuat jadwal yang ada menjadi melenceng. Misalnya ada penggantian kelas secara mendadak disisi lain harus ikut rapat kegiatan organisasi di jam yang sama, mahasiswa ambis pasti cari jalan keluar supaya kedua kegiatan itu berjalan lancar.
Kalau sekarang, jalan keluar yang efektif saat ketika pandemi ini ya harus bisa double device, yang sebenarnya enggak jadi hal yang sulit bagi mahasiswa ambis. Meskipun waktu istirahat menjadi dikorbankan demi nilai bagus dan pengalaman organisasi yang maksimal, ya, pokoknya harus semangat!
Makanya, enggak usah coba-coba deh ngajak mahasiswa ambis buat healing (baca: liburan) atau nongkrong di cafe, apalagi kalau di minggu ujian dan ngajaknya juga mendadak. Susahnya bukan maen!
Nah, perlu dipahami juga bahwa mahasiswa ambis, sama dengan mahasiswa lainnya, punya prioritasnya sendiri yang harus dihargai. Skip main di tongkrongan dan fokus belajar buat ujian bukan hal yang enggak asik, justru perlu ditiru.
Bersenang-senang di masa kuliah itu harus tapi jangan lupakan tujuan kuliahnya juga ya!
Punya Tujuan Yang Jelas
“Pokoknya habis lulus, gue harus kerja di startup unicorn ini!” kata si mahasiswa ambis.
Mayoritas mahasiswa ambis kelihatannya memang sudah punya rencana untuk masa depan ketika duduk di bangku kuliah. Entah rencana tentang target IPK di semester depan bahkan rencana bidang pekerjaan ketika lulus nanti, pokoknya hidupnya sudah tertata deh!
Tapi, sebenarnya, mahasiswa ambis juga pasti melewati fase pencarian tentang prospek kerja berbagai jurusan kuliah dan fase kewalahan karena banyaknya saran untuk berkembang dari sana-sini ketika baru masuk dunia kuliah.
Baca juga : Lebih Penting Mana, Nilai atau Ilmu Pengetahuan?
Untungnya, mahasiswa ambis sudah terbiasa untuk merencanakan kegiatannya. Jadi, beragam impian dapat disortir menjadi satu impian yang fix. Impian ini enggak selalu berkaitan dengan bidang pekerjaan yang diinginkan. Tapi, bisa juga satu target spesifik yang harus dicapai.
Misalnya, di semester ini target nilai per mata kuliah harus A sehingga mendapatkan IPK yang tinggi. Nah, IPK yang tinggi di semester ini dapat menjadi aspek pendukung untuk mendaftarkan diri untuk beasiswa ketika lulus nanti.
Nah, itu tadi sisi baik dari menjadi mahasiswa ambis yang gagal dilihat oleh anak muda, khususnya teman seangkatan yang sering menghakimi. Menjadi mahasiswa ambis itu enggak salah kok, asal ambisnya di jalan yang benar lewat usaha yang jujur dan enggak merugikan orang lain.
By the way, keputusan untuk menjadi ambis atau enggak tetap berada di tangan lo sob!
Hal yang paling penting, lo harus punya keinginan untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik dan jangan lupa juga gunakan waktu muda lo di perkuliahan untuk mengembangkan diri demi masa depan!
Jangan lupa baca artikel lainnya dari Analitica, Platform Ujian Online Terbaik yang menyediakan ujian untuk seleksi masuk kampus, tryout UTBK SBMPTN, Seleksi Mandiri dan masih banyak lagi.